Skip to content

Menjadi Orang Rabbani

13 April 2015

Begitu banyak kaum muslimin yg berjamaah membentuk kelompok kelompok yang masing masing memgklaim mereka yang benar atau para ustadz maupun kiyainya yang benar.

Padahal Allah swt berfirman dalam Quran Ali ‘Imran : 79

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّى مِن دُونِ اللَّهِ وَلٰكِن كُونُوا رَبّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Tanpa sadar mereka menjadi penyembah golongannya, penyembah ustadz nya. Fanatisme berlebihan. Menggantungkan diri pada jamaah, menggantungkan diri pada kiyai. Ini berbahaya, karena ustadz itu juga manusia, jamaah itu terdiri atas manusia yang bisa berbuat salah.

Seharusnya hanya kepada Allah dan  Rasulnya kita menggantungkan diri kita. Menjadi orang orang yang Rabbani, yang tidak pernah puas diri atas ilmu yang didapatnya, dan dari yang ia dapatkan ia mengajarkan kepada orang lain.

Orang yang rabbani seperti yang dikatakan oleh Ali bin abi Thalib, ‘takwa itu ketika merasa diri ini tidak lebih baik dari orang lain’, sehingga ia senantiasa membuka diri untuk mengambil ilmu dari siapapun, golongan apapun.

Ia juga seperti Imam Syafei, yang dalam tiap kasus walaupun merasa pendapatnya benar selalu mengakhirinya dengan perkataan, ‘bisa jadi pendapat orang lain lebih benar’. Ia sadar betul bahwa ia adalah seorang manusia yang bisa saja khilaf, dan ia menunjukkan itu kepada ummat.

Karakter Rabbani tidak pernah jauh dari 3 hadits yang tercantum dalam koleksi arbain an-Nawawi. Ia senantiasa meluruskan niat (hadits 1 tentang niat), menjaga diri utk tidak berlebihan (hadits 5 tentang bid’ah), menjauhkan diri dari yang dibenci Allah dan Rasul, melakukan apa yang dicintaiNya. (Hadits 6 tentang halal-haram)

Berjamaah di suatu golongan atau kelompok itu sangat dianjurkan dalam Islam. Begitu juga belajar dari para ustadz dan kiayi. InsyaAllah dengan senantiasa mengingat konsep Rabbani yang tertera di ayat Quran di atas, kita tidak jatuh pada fanatisme yang berdampak pada permusuhan, ataupun tidak mudah kecewa yang membuat kita berbalik menjadi benci.

Wallahu a’lamu bish showabi.

Advertisements
One Comment leave one →
  1. jtxmisc permalink
    27 April 2015 8:29 pm

    mantap banget ini infonya 🙂 , termakasih infonya, visit blog dofollow saya juga ya gan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: