Skip to content

Kita tidak (seharusnya) sendirian

5 April 2015

Al-Fatihah : 5

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Na’budu, bukan a’budu. Nasta’in, bukan asta’in. Allah swt memberikan petunjuk bahwa beribadah itu hendaknya berjama’ah. Meminta pertolongan kepada Allah juga hendaknya dilakukan sebagai subyek plural, tidak singular.

Begitu juga dalam Doa sapu jagad:
Al-Baqarah : 201

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Dan Al-Furqan : 74

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوٰجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Ke-kami-an yang ditunjukkan dalam imbuhan ‘na’ sering berulang dalam al-Quran menegaskan bahwa kita tidak sendirian, dengan begitu menganjurkan kita bahwa dalam beribadah haruslah beraktifitas dalam jamaah, baik itu jamaah umat muslim secara keseluruhan, dan kelompok kelompok majelis ilmu/halaqoh.

Ke ‘kami’ an ini juga memunculkan tanggung jawab diri utk membawa jamaah menuju kebaikan, kesalihan yang pada akhirnya berujung surga, tidak hanya diri sendiri. Jamaah keluarga, saudara, teman, tetangga sekomplek, sekota, senegara, bahkan sedunia, semuanya adalah bagian dari entitas ‘na’ yg perlu diajak bersama, tentunya sesuai dengan kapasitas masing masing. Ini adalah intisari dakwah seperti yang tertera pada:

Ali ‘Imran : 104

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang (mereka) menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Kata kata yad’una, ya’muruna, yanhauna semuanya bersubyek jamak. Sekali lagi menegaskan anjuran untuk berjamaah dalam dakwah.

Itulah salah satu bukti kesempurnaan al-Quran al-Karim. Dimana tiap kata, tiap imbuhan memiliki makna yg dapat kita ambil hikmah dari padanya untuk dijadikan petunjuk.

Wallahu a’lamu bi al-showwabi

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: