Skip to content

Review Buku: Dunia Tanpa Sekolah

23 April 2012

Dunia Tanpa SekolahDunia Tanpa Sekolah by M. Izza Ahsin
My rating: 3 of 5 stars

Buku ini adalah sebuah memoar pergulatan pemikiran Izza, seorang remaja SMP, dalam mengatasi keinginannya yang begitu besar untuk menulis sebuah novel fantasi. Tumbuh di keluarga pencinta buku rupanya merangsang pikiran Izza dan memupuk minat yang menggebu untuk menjadi penulis profesional. Sungguh, sangat tidak lazim untuk anak seusianya.

Izza merasa bahwa metode sekolah formal dan kurikulumnya yang berat yang dia jalani adalah ‘tidak penting’ dan hanya merupakan sebuah distraksi dalam mencapai cita-cita besarnya tersebut. Menjelang Ujian Nasional SMP, diapun membuat sebuah keputusan yang radikal: berhenti bersekolah. Namun tidak mudah, dia cuma anak 15 tahun dan ‘masih belum dianggap’; dia harus meyakinkan orangtuanya yang marah dan bingung dibuatnya, saudaranya, guru-gurunya, dan terutama dirinya sendiri bahwa ia telah mengambil keputusan yang benar.

Buku ini menyampaikan banyak pesan. Yang menohok tentunya ia secara jujur menampilkan coreng moreng pendidikan di Indonesia yang menurutnya membelenggu kreatifitas dan terkadang cenderung melecehkan dan meremehkan potensi siswa-siswa. Debatable, tapi saya yakin banyak guru-guru killer yang mukanya merah karena malu (atau marah) membaca kritik Izza di buku ini.

Terlepas dari kontroversi apakah izza ini ‘good kid’ atau ‘bad kid’, memoar izza ini patut diapresiasi sebagai suatu karya seorang remaja yang solid dan jauh melampaui umurnya. Perjuangan remaja lima belas tahun ini dapat memberi inspirasi dan motivasi untuk lebih bersemangat memperjuangkan impian yang belum tercapai; terutama untuk saya, manusia tiga puluh dua tahun, yang suatu saat ingin juga jadi penulis.

Saya tidak sabar membaca novel fantasinya, ayo semangat Izza!

View all my reviews

Advertisements
2 Comments leave one →
  1. 25 April 2012 4:09 pm

    waw keren. saya yakin banyak anak2 diluar sana yang punya visi yang ‘tempatnya’ adalah jauh di masa depan. semoga ada jalan alternatif bagi si izza buat mendapatkan pendidikan yang cocok dan mendukung hasrat menulis fiksinya.

  2. gauzal permalink*
    26 April 2012 4:21 pm

    iya mas ilham. Ada baiknya kalau kurikulum pendidikan formal dibuat se-variatif mungkin untuk menggali potensi pelajar yang berragam. Pendidikan di Indonesia kayaknya agak kurang menghargai anak-anak yang berbakat di bidang sosial: sastra, olahraga, wiraswasta, misalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: