Skip to content

dunia properti yang tak adil

10 August 2016

Orang yang membeli tanah sepuluh tahun lalu di Bintaro seharga lima ratus juta rupiah, tahun ini bisa menjualnya seharga lima milyar rupiah.

Bayangkan! Mendapatkan penghasilan empat setengah miliar dalam waktu 10 tahun, atau 450 juta setahun, atau 35 juta per bulan, tanpa melakukan apapun.

Sedangkan ada orang yang bekerja delapan belas jam sehari, dengan pikiran dan tenaganya. Bahkan gajinya tidak mencukupi UMR.

Adil?

Berkah?

Apakah kita Mushlihun atau Mufsidun?

10 May 2016

Dalam benak setiap muslim selalu muncul pertanyaan: apakah dengan begini, akan membuat dunia ini lebih baik? Apakah dengan tindakanku ini justru akan membuat kerusakan di dunia?

Pertanyaan ini tidak muncul begitu saja. Ini muncul dari pergulatan pemikiran dan spiritual. Ini terinspirasi dari firman Allah di Al-Baqarah ayah 11-12. Apakah engkau seorang sholeh/ mushlihun (pembuat kebaikan), ataukan mufsidun (pembuat kerusakan di muka bumi)? Sungguh banyak sekali orang yang merasa mereka adalah mushlihin, padahal mereka mufsidun. Maka itu berhati hatilah.

Ini pulalah yang diungkapan Sayyid Qutb dalam ‘Ma’alim fii Thariq’ (Petunjuk Jalan), yang kesimpulannya setiap Muslim itu hidupnya mencontoh perjuangan Rasulullah dalam mengubah jaman jahil menjadi peradaban Muslim yang maju. Dari kegelapan menuju terang. Dari keburukan menjadi kebaikan. Itulah intinya Jihad! Perbaikan!

Oleh karena itu kita harus waspada dalam setiap perbuatan kita, baik dalam bermasyarakat, dalam bekerja, dalam apapun. Munculkanlah pertanyaan di atas. Apakah tindakan kita ini akan membuat dunia ini menjadi lebih baik?

Kembalilah ke masyarakat

8 May 2015

Kita telah memahami konsep Rabbani dalam QS 3:79 dalam kajian sebelumnya yaitu orang yang senantiasa mengajar dan mempelajari Kitab. Dampaknya ialah dalam tindakannya ia selalu berlandaskan pada dalil yg ia dapatkan dari Kitab yang mana ia lakukan, sampaikan dan sebarkan. Ini adalah elemen penting dalam pembentukan seorang Muslim sejati yaitu yang berorientasi pada dakwah.

Selanjutnya mari kita simak:
Al-Baqarah : 151

كَمَآ أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُوا عَلَيْكُمْ ءَايٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

Allah mengutus Rasul ‘minkum’ di antara kalian, dari kalian. Walaupun kita bukanlah Rasul, tapi kita selaku kader dakwah yang membawa panji Rasul, kita adalah wakil beliau. Selayaknya kita tetap membumi dan menjadi bagian masyarakat, sebagaimana arti yang muncul dari kata ‘minkum’.

Dimana tugasnya adalah: 
1. ‘yatluu alaykum aayatina’, membacakan ayat ayat Allah, al quran. Memperkenalkan, mengajak mencintai, dst.
2. menyucikan kalian ‘yazakkiikum’, membersihkan masyarakat dari penyakit sosial.
3. ‘Yuallimukumul-kitaab wal-hikmah’, mengajarkan kitab dan hikmah, baik dari Quran, hadits Rasul, kisah sahabat, yang membangkitkan kesadaran keislaman.
4. ‘Yuallimukum ma lam ta’lamun’ mengajarkan apa yang kalian tidak ketahui, supaya mereka mengetahui. Supaya berilmu, dan menjadi masyarakat yang maju dan bermanfaat.

Semua itu tidak akan mungkin apabila kita tidak ‘minkum’ atau menjadi bagian yang aktif di masyarakat. Rasulullah, jauh sebelum menerima wahyu, sudah dikenal dengan sebutan ‘al-amin’ dan sangat terpandang. Ini menunjukkan aktifnya ia secara positif di masyarakat kota mekkah pada waktu itu.